Dalam penelitian Farmer Sustainability
Perceptions yang dilaksanakan Francis Murray terungkap bahwa kendala
utama untuk mempertahankan keberlanjutan usaha budidaya ikan adalah
serangan penyakit dan penurunan kualitas air media. Pengendalian dua
faktor tersebut berusaha didekati dengan menerapkan sistem pengelolaan
kesehatan ikan dan lingkungan.
Hal di atas juga menjadi perhatian Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP)
Kabupaten Tulungagung. Untuk mengenalkan sistem pengelolaan kesehatan
ikan dan lingkungan terpadu kepada pembudidaya ikan, pada tanggal 23-25
Oktober 2012 Tim dari Dinas Kelautan dan Perikanan yang dipimpin oleh
Kepala Seksi Kesehatan Ikan dan Lingkungan, Bibit Harianto, S.Sos., dan
Kepala Seksi Budidaya Ikan, Anwar Santoso, S.P., melakukan pembinaan
lapangan di 3 lokasi budidaya yang berada di kecamatan Ngunut,
Subergempol dan Rejotangan.
Dalam pembinaan tersebut, Tim dari DKP Kabupaten Tulungagung yang
didampingi oleh petugas penyuluh lapangan juga mendemonstrasikan
penggunaan vaksin ikan untuk mengendalikan serangan penyakit merah
(Motil Aeromonas Septicaemia). Penyakit merah dikenal oleh pembudidaya
ikan sebagai cacar. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit ikan
penting yang menyerang ikan air tawar seperti lele dan gurami.
Pembinaan juga diisi dengan monitoring kualitas air media dari kolam
budidaya secara langsung. Saat ini DKP Kabupaten Tulungagung telah
membuka layanan pengujian kualitas air meliputi pengukuran suhu,
pengukuran oksigen terlarut (DO), dan pengukuran derajat
keasaman/kebasaan (pH). Ketiga parameter kimia fisika tersebut sangat
mempengaruhi keberhasilan dalam budidaya ikan.
0 komentar:
Posting Komentar